Home » Posts tagged 'kode etik'

Tag Archives: kode etik

Recent Posts: The Silent Corner

Mr. Syayid’s Classroom Rules

Often times, students like you asked me how to get a good score in my classroom. Believe me; it is difficult to get a good score in my classroom. However, it is possible for you to get it if you put your mind into it. This post presents keywords Mr. Syayid’s rules, which means things […]

Menuju Amerika Serikat demi S2 dengan Beasiswa Fulbright – Sebuah Cerita Hidup Beraneka Rasa dan Warna

Meraih beasiswa penuh untuk studi S2 di Amerika Serikat adalah sebuah anugerah, namun bukan berarti tidak ada ujian lagi setelahnya…

Same-Sex Marriage Approval in the States (2015): A Fact that the Truth of Al-Qur’an becomes undeniable

I had recently received lots of Facebook notifications from few of my friends living in the United States informing that the law of same-sex marriage had been approved nationwide in that country. For some reasons, I know pretty well that the life in the States is openly liberal and every individual is given rights to […]

Daftar Nilai Semester Genap 2014/2015 STKIP PGRI Sumatera Barat

Range of Scores for CoursesAlhamdulillah, selesai akhirnya saya menilai hasil belajar mahasiswa yang saya didik secara keseluruhan di program studi pendidikan bahasa Inggris dan juga yang belajar bahasa Inggris dengan saya di program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Tujuh mata kuliah yang saya ampu pada semester ini antara lain: Writing I, sesi 2014 C, […]

Pasca Studi di Luar Negeri: Siapkah Indonesia dengan Tuntutan Zaman?

  Memiliki pengalaman studi di luar negeri adalah pengalaman berharga yang bisa diraih oleh seorang pemuda Indonesia. Bukan saja karena studi di luar negeri membutuhkan persiapan yang matang, studi di negara orang lain juga membutuhkan kebulatan tekad untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, apakah yang akan dibawa oleh pemuda-pemudi Indonesia setelah kembali […]

Membangun Kembali Etika Ilmuwan Indonesia

Pernah di dalam hidup saya sebagai seorang pelajar, dan sebagai seseorang yang senang belajar dan menuntut ilmu, dan saat ini berstatus sebagai salah satu Pengajar di Perguruan Tinggi di salah satu daerah di Indonesia, saya berhadapan dengan yang namanya Etika Ilmuwan Indonesia (di dalam pikiran saya). Di saat yang sama, saya juga berhadapan dengan suasana kompetisi yang sengit dan kurang menyehatkan secara kognitif dan afektif, pun sosial, baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Ada rumor yang beredar bahwa di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ada ketidakadilan mengenai evaluasi kinerja tenaga pengajar, guru, dan dosen yang ada di daerah. Sementara, tidak sedikit juga yang menyatakan bahwa Dirjen Dikti sudah bekerja dengan seoptimal mungkin untuk menunjang kemajuan Indonesia dari segi pendidikan, meskipun pada implementasinya masih membutuhkan pola transparansi inter-struktural berdimensi menyeluruh. Tulisan saya kali ini bertema ajakan kembali membangun Ilmuwan Indonesia menuju ke tingkat yang lebih baik, di mana setiap Ilmuwan berperan semaksimal mungkin demi bangsa dan negaranya sesuai dengan Kode Etik Ilmuwan yang Berbangsa dan Bernegara, terlepas dari daerah mana mereka berasal di seluruh Indonesia, kepercayaan dan agama apa yang mereka percayai, dan tentunya, terlepas dari bidang kajian ilmu apa yang mereka tekuni saat ini. Saya membagi tiga tahapan Ilmuwan Indonesia, yakni yang berada di tingkat Daerah, Nasional, dan Internasional. Kemudian, saya rangkum kembali secara keseluruhan makna ketiga bentuk Ilmuwan ini sehingga ke depannya kelak, Indonesia diisi dengan Ilmuwan (Scholars) yang tidak hanya berilmu tinggi namun juga dilandasi dengan Etika yang baik menuju Indonesia yang lebih berkualitas dalam skala global.

Ilmuwan Indonesia yang berlokasi di Daerah-Daerah Terisolir: Kesempatan dan Update Bidang Ilmu serta Masalah Akses ke Sumber Informasi dan Pengetahuan berikut Sarana dan Pra-Sarana.

Permasalahan mendasar yang dihadapi oleh Ilmuwan Indonesia yang berada di daerah terisolir di seluruh wilayah Indonesia adalah kurangnya kesempatan dalam hal update ilmu (istilahnya, bahan bacaan ilmiah yang mereka konsumsi secara intelektual) berlandaskan kepada bahan bacaan lama dan kurang mendapat sorotan tajam perihal isi. Pada era di mana teknologi informasi telah berkembang dengan sangat pesat di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau Ilmuwan Indonesia yang berada di daerah bisa mengakses ke sumber informasi melalui internet. Namun, perlu diketahui juga bahwa informasi yang tersedia di internet bersifat bebas, dengan arti kata, tanpa ikatan, serta tanpa jaminan akan kebenaran yang disuguhkan ke publik. Di beberapa situs yang saya baca juga tidak menyajikan informasi dengan seimbang dan cenderung berat sebelah. Kepiawaian di dalam menelaah situs seperti ini mutlak diperlukan bagi ilmuwan Indonesia.

Ilmuwan Indonesia yang berkiprah di Kota-Kota Besar Indonesia: Dibutuhkan Keinginan Besar untuk Sama-sama Membangun Komunikasi yang Sehat dan Berkesinambungan demi Kelancaran Distribusi Kemajuan Ilmu di Indonesia

Ilmuwan Indonesia yang berkiprah di Luar Negeri melalui Diaspora Indonesia: Kepedulian Mereka terhadap Nasib Bangsa Indonesia bisa dinilai masih tinggi, dengan dikorbankannya Rasa Cinta Mereka terhadap Bangsa, sekalipun Visi dan Misi serta Tujuan yang Jelas Masih Perlu disampaikan dengan Jelas kepada Ilmuwan yang ada di Indonesia untuk menghindari Kesalahpahaman dan Kecemburuan Sosial yang tidak ada faedahnya sama sekali. Sederhananya, adanya rasa kecemburuan sosial yang tidak beralasan perihal penilaian kepada sesama Ilmuwan di dalam negeri dan luar negeri membuat pola komunikasi antar sesama terkesan kurang terarah dan tidak terhubung dengan baik. Untuk beberapa bidang ilmu, misalnya komputer dan teknologi, memang bisa dikatakan luar negeri itu memang sarangnya ilmu seperti ini. Sementara itu, untuk ilmu sosial, perlu dicermati pula, bahwa ilmu dan teori yang dipelajari dari negara luar negeri, pada dasarnya dibentuk dan disusun dari kondisi dan situasi sosial yang ada di negara tersebut. Perlu digarisbawahi di sini adalah, teori dan pola pikir yang sedang berkembang di luar negeri tida mutlak bisa serta merta diterapkan di Indonesia. Sebagai ilmuwan yang ber-etika, tentu kita bisa membedakan mana yang layak dan tidak layak untuk kita ajarkan ke anak didik kita. Jika tidak, melalui ilmu yang kita ajarkan, kita malah menjadikan mereka jauh dari identitas diri mereka sebagai bangsa Indonesia, yang tersohor dengan nilai-nilai luhurnya perihal kehidupan sesama. Khusus untuk ilmu bahasa, misalnya, ilmu bahasa Inggris, tentu belajar langsung di negara di mana bahasa tersebut digunakan akan sangat bermanfaat. Intinya, keinginan baik untuk saling membangun ikatan Ilmuwan Indonesia dengan itikad baik memang sangat diperlukan. Tujuannya hanya satu, yaitu membinan keharmonisan antara ilmuwan Indonesia di luar negeri dan di dalam negeri.

Merajut Kembali Etika Ilmuwan Indonesia: Dari Daerah ke Nusantara hingga ke Luar Negeri (Bersatu Kita Teguh, bercerai Kita Runtuh – Masih Ingatkah Akan Kata-Kata Ini, Saudaraku se-Indonesia?)

Berikut ini beberapa tema yang ingin saya angkatkan perihal menuntut ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri:

  1. Visi dan Misi Menuntut Ilmu harus Jelas dan Konkret
  2. Bidang Ilmu yang dikaji harus sejalan dengan Minat dan Bakat Masing-Masing
  3. Membangun Kembali Sikap dan Rasa Tanggung Jawab dengan Bidang Keilmuwan Masing-Masing
  4. Menjaga Kredibilitas Sesama Ilmuwan dengan Tanpa Sikap Saling Menjatuhkan
  5. Aplikasi Ilmu bisa bersifat Teoretis, Konseptual, Metodologis, atau Praktis, tergantung kepada Bidang Ilmu Masing-Masing
  6. Membangun Komunikasi yang Sehat sesama Ilmuwan Indonesia guna terjalinnya Suasana Ilmiah Indonesia yang Positif dan Berdaya Guna bagi Masyarakat Banyak
  7. Setiap Ilmuwan Indonesia menghargai Sumbangsih Penelitian Ilmuwan Indonesia yang berasal dari Daerah Lain di Indonesia atau yang sedang berlokasi di Luar Negeri
  8. Akui kelebihan Lulusan Luar Negeri, namun Akui juga Kelebihan Lulusan Dalam Negeri, sesuai dengan Bidang Kajian Masing-Masing, sembari Membangun Komunikasi yang Positif sesama Ilmuwan Indonesia guna terbentuknya Asas Adil dan Manfaat berbasiskan kepada Pancasila. Ilmuwan lulusan luar negeri seharusnya bisa mengembangkan ilmunya di Indonesia agar ilmu yang didapat dari luar negeri bisa mengembangkan Indonesia, mengingat tidak semua orang Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Jika Anda bisa bersekolah di negara-negara luar itu, maka anda termasuk orang yang beruntung.
  9. Kelebihan masing-masing Ilmuwan di bidang masing-masing layak diakui dengan adanya Sumbangsih Ilmu pada Institusi di mana Ilmuwan bernaung dan ditinjau berdasarkan kepada Asas Manfaat pada Khalayak Sosial di mana Ilmuwan Indonesia berlokasi
  10. Ilmuwan Indonesia berkewajiban membangun kecerdasan bangsanya dengan sikap yang benar dan baik serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Sang Maha Pencipta – Tuhan Yang Maha Esa dan Hukum serta Undang-Undang yang berlaku di Indonesia, dengan Asas Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Di saat yang sama, Ilmuwan Indonesia juga berhak diperlakukan dengan baik atas asas Keprofesionalan Ilmu yang mereka kuasai karena mereka adalah Aset Bangsa Indonesia yang tidak bisa diganti dengan Nilai Materil selagi Ilmuwan tersebut Jujur dengan Ilmunya dan Berniat Baik terhadap Penggunaan Ilmunya di tengah-tengah masyarakat banyak.

—————————————————————————–

Ilmuwan yang baik, pasti memiliki niat yang baik. Mari, kita galakkan Gerakan Menuju Indonesia yang Lebih Baik, dengan Sikap Positif, Saling Membantu dengan Kebaikan dan Kejujuran, dan dengan wujud Rasa Tenggang Rasa sesama Warga Negara Indonesia yang Majemuk dan ber-Bhineka Tunggal Ika. Semoga, Kita Bisa. Kalau bukan Anda, Siapa Lagi? Tidak perlu menunggu Presiden, Anda adalah Presiden Indonesia yang sesungguhnya! Merdeka Indonesia!

Mencermati Kegalauan Ilmuwan Indonesia menghadapi Krisis Moral yang Multi-Dimensi Saat Ini. Ilmuwan Sejati menggunakan Ilmunya Demi Kebaikan Orang Banyak. Harta dan Uang adalah kebutuhan yang sifatnya materil, tapi kebutuhan akan apresiasi dan penghargaan, melebihi ini semua.

Bagaimana menurut anda?

%d bloggers like this: