Menuju Amerika Serikat demi S2 dengan Beasiswa Fulbright – Sebuah Cerita Hidup Beraneka Rasa dan Warna

Padang, 12 Juli 2015. Jam 02:57 pagi.

Hari masih pagi, dan udara terasa dingin, menusuk ke tulang. Namun, aku masih harus terjaga untuk menulis sebuah artikel yang akan dipresentasikan nanti di seminar internasional di Padang, dan, juga beberapa dokumen yang perlu kusiapkan untuk menjadi dosen yang paripurna, setidaknya, di mataku, dan di hadapan Allah SWT.

Sejenak, aku kembali berintrospeksi diri dan bertanya-tanya, siapa aku, dan apa salahku, di mana kebenaranku, dan mengapa aku begitu sedih sembilu dengan ribuan tanya, cerita, dan gelora rasa, angkara, dan bahkan derita. Menyesak ke dalam kalbu, tanpa ada yang tahu. Dan, catatan ini pun, di blog ini, kutorehkan. Untuk menjawab sejuta tanya dan syak wasangka yang ada. Sebuah cerita, dari seorang anak muda yang super sensitif, terlalu optimis, dan terkadang suka lari dari menghadapi orang yang jahat, tentang secuil kisah hidupnya hingga ia bisa ke negeri besar itu, Amerika Serikat, dengan bermodalkan tekad, niat, dan dukungan dari orang-orang yang berjiwa edukatif dan tentunya, penuh cinta. Ini adalah cerita sederhana, yang mungkin tidak ada apa-apanya dengan cerita dewata atau kisah legenda negeri dongeng. Aneka rasa dan warna, dalam kisahku, hingga ke Amerika Serikat, demi studi lanjut S2, melalui beasiswa Fulbright. Siapakah Anda membacanya?

================================

Terlebih dahulu, kisah ini kumulai dari, sebuah gang. Nama gang tersebut adalah gang flores. Sebuah nama jalan di kota Padang. Kecil memang, tapi aku suka, dan aku cinta. Di sana aku dibesarkan. Saban hari, aku menatap langkit ke angkasa. Kupandangi langit, pesawat terbang melintasi birunya angkasa di atas sana. Aku pun berpikir, kapankah aku bisa menaiki pesawat? Bagaimanakah rasanya? Ah, itu tidak mungkin, rasaku. Kutatap rumah, dan wajah ibu bapakku, mana mungkin aku akan ke sana…

2003. Aku tamat SMU. Dari sebuah SMU yang cukup dikenal baik di kota Padang. Aku sering ikut kegiatan rohis. Sayangnya, aku tidak suka nongkrong, alhasil gelarku menjadi anak mesjid. Tiap hari Senin pagi, saat upacara bendera, aku menjadi pembaca doa. Sepele. Sederhana. Tapi, aku suka dan aku cinta. Aku bahagia melihat teman-temanku saling mengusap wajahnya setelah mendengarku selesai membacakan doa. Ah, masa-masa remaja yang indah. Namun sayang, aku ini lugu. Tak tahu ada gadis yang suka padaku. Aku bloon soal cinta. Aku suka dan aku cinta, hanya pada ilmu.

Tiap pulang sekolah aku luangkan waktu untuk melihat ibu dan bapakku. Bapak hanya kuli bangunan dan bekerja di sebuah hotel swasta di Padang. Berapalah yang bisa kami dapatkan. Bagi kami, harta berlimpah tidak menjamin kebahagiaan. Tapi, bagiku, aku ingin berhasil dan memiliki cita-cita.. Ingin menjadi seseorang di masa depan. Akankah hal itu terwujud?

Di puncak bukit itu, aku menjadi mahasiswa. Mahasiswa lugu. Polos. Dan, sedikit, kekanak-kanakan. Itu dulu. Tapi, semuanya terasa begitu indah. Semua teman bagiku, baik, meski jahatpun aku tahu, mereka tetap kunilai baik. Aku pun bertekad, menjadi Ketua HIMA. ESA. Sebuah beban, memang, dan berat. Di situ aku belajar arti gagal, dan arti dihargai, dan arti memiliki teman yang sehati, sejiwa, dan yang menerima kita sebagaimananya kita, demi tujuang yang baik, berhasil menjadi seorang Sarjana, demi membahagiakan orang tua.

Lucunya, aku diberkahi wajah mendekati wajah Oppa, atau Korean, kata orang sekarang. Cuma, dulu itu, aku bloon, entah mungkin sampai sekarang. Aku bersyukur saja, dan berterima kasih. Jadi, selama aku kuliah dulu di Unand, orang berpikir aku anak orang kaya. Pergi kuliah, aku selalu berusaha necis, dan rapi. Kadang, orang tidak tahu, kalau baju yang kupakai ada yang berupa pemberian orang. Tapi, semuanya kujalani dengan sabar. Ikhlas. Bagiku, dulu itu, waktu kuliah, bangganya luar biasa bisa kuliah. Bapakku yang hanya karyawan biasa, yang dulu baginya tidak terpikirkan mengkuliahkan anaknya, akhirnya bisa juga. Sebagai anak, tentu, aku tidak mau memberatkan orang tua. Maka, aku pun, membanting setir, dan memutar haluan menjadi mahasiswa kutu buku, dan rakus dengan kompetisi, serta tantangan untuk pengembangan diri. Sembari di hati, berbisik, “Ya Allah, jika jalanku benar, tunjukkanlah, dan jika jalanku salah, maka jauhkanlah aku dengan yang salah itu…”

Aku menjadi bersemangat, dan bersemangat. Setelah empat tahun kuliah di sana, dan kupandangi segala kenangan dulu itu saat ini, aku tertegun malu. Aku yang dulu, mahasiswa yang penuh semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang saling mendukung. Kutatap semua sertifikat yang kupunya, ternyata aku alhamdulillah, diberkahi oleh Allah SWT sebagai Mahasiswa Teladan oleh Rektor dan Dewan Penyantun Unand, serta oleh BEM dan DLM Unand. Meski aku, dari jurusan sastra Inggris, yang katanya dulu di bawah favoritnya jurusan eksakta. Namun, waktu itu aku bangga dan aku bahagia. Setiap kali aku ke jurusan, emosiku positif dan kutatap wajah dosen-dosenku, semangat mereka ingin meningkatkan kualitas jurusan membuatku juga bersemangat meningkatkan kualitas hidupku. Kulihat dosenku ada yang belajar dan berhasil menguasai bidang ilmu bahasa dan sastra Inggris hingga ke Inggris, Amerika, dan Australia, dan juga dosen peneliti handal tamatan dalam negeri yang studi di Bali. Aku pun ingin seperti mereka. Apa ya rasanya berada di luar negeri? Mungkin, bagiku, berada di kota Padang, dan di beberapa kota di Jawa, mendidikku menjadi pribadi yang lebih bersemangat. Alhamdulillah, dengan seizin Allah SWT, kuselesaikan kuliah sarjanaku dengan gemilang. Berprediket Sangat Memuaskan, diiringi dengan prestasi akademis dan non-akademis dan kulihat wajah ibu bapakku, mereka menangis terharu. Aku pun sedih mengingat apa yang sudah dilalui. Untuk siapa pun itu, yang dulu membantuku, dosenku, teman kuliah, sahabat, terima kasih…

2009. Dua tahun berlalu. Bekerja saat ini, menjadi dosen. Dosen? Apa iya? Tidak pernah kubayangkan aku akhirnya menjadi dosen. Pertama kali aku diajak oleh salah seorang dosenku untuk menggantikan beliau mengajar di PT swasta di Padang. Awalnya, aku takut. Takut salah. Aku cemas. Takut kalau aku mengajarkan ilmu pada mahasiswa yang salah. Setelah berdiskusi dengan dosenku, aku lanjutkan. Kebetulan waktu itu, ada penerimaan dosen, jadi aku melamar. Dulu, dosen luar biasa, dan di bulan September 2009, aku menjadi dosen tetap di sana. Aku bersyukur. Aku diterima. Meski, jauh di hati kecilku, aku merasa kecil. Aku mengajar di tempat di mana sebagian dari kurikulumnya tidak pernah kupelajari. Namun, aku tetap berusaha. Berusaha…

2010. Ada berita itu. Dosen harus dan wajib S2. Tahun 2012, akan diefektifkan dosen harus S2. Aku menjadi galau. Bukan karena aku tidak mau studi di daerah, namun di kota Padang, ilmu yang khusus mendalami bahasa dan sastra Inggris, sangat terbatas. Di Unand, yang ada adalah linguistik murni, sementara di UNP, lebih dititikberatkan ke prodi pendidikan bahasa dan sastra Inggris, alias menjadi tenaga pendidik dengan konsentrasi kajian ilmu kependidikan. Selain itu, aku pun tidak punya cukup uang untuk melanjutkan studi S2. Jadi…ibarat ayam kelaparan, aku terus mencoba mencari informasi bagaimana caranya bisa kuliah S2. Ada ternyata informasi mengenai beasiswa di internet, dan jumlahnya banyak sekali. Tinggal kita memenuhi syarat atau tidak. Ada beasiswa Dikti, beasiswa AusAid, beasiswa Fulbright, beasiswa NufficNeso, dan lain sebagainya, dari berbagai penjuru dunia. Dalam keterbatasan ekonomi dan finansial yang aku alami, aku dimudahkan oleh Allah SWT untuk mencari informasi. Apa yang aku lakukan? Aku melamar beasiswa. Hampir 10 kali. Hingga, kali yang ke-11, alhamdulillah, upayaku didengar oleh Allah SWT, dan aku dinyatakan sebagai penerima beasiswa Fulbright ke Amerika Serikat. Di sinilah, kisah hidupku yang baru dimulai. Dan, atas dasar inilah, aku menulis postingan ini, berbagi dengan teman-teman pengalamanku hingga aku bisa studi di Amerika Serikat, dengan “gratis”, walau bukan berarti, tidak ada pengorbanan sama sekali. Aku berharap, dengan menuliskan postingan ini, kesimpangsiuran informasi mengenai beasiswa yang aku raih bisa diluruskan.

——————-

Pertengahan tahun 2010, aku mengirimkan aplikasi beasiswa Fulbright ke kantor AMINEF di Jakarta, tepatnya waktu itu di gedung Balai Pustaka. Dokumen yang kulengkapi untuk kukirimkan ke AMINEF adalah lembar aplikasi beasiswa yang berisi informasi penting mengenai calon pelamar beasiswa, fotokopi ijazah dan transkrip nilai S1, letter of reference (surat referensi, bukan surat rekomendasi) dari dua orang dosen: dosen pembimbing akademik di Unand, Bapak Drs. Ferdinal, MA, dan dosen pembimbing skripsi di Unand, Ibu Dra. Ramadani Ghaffar, M.Hum. Satu lagi dari wakil ketua I bidang akademik STKIP PGRI Sumatera Barat, yaitu Ibu DR. Zusmelia, M.Si (karena aku bagian dari keluarga besar akademika STKIP PGRI Sumatera Barat, maka aku berhak untuk mendapat surat referensi). Alhamdulillah, aku mendapatkan dukungan dan dorongan yang positif dari pimpinan kampus tempatku bekerja dan juga dari dosen-dosenku di jurusan sastra Inggris, Universitas Andalas. Tidak terkecuali rekan kerja yang positif membantu, seperti kak Ari Ispita (yang sudah me-review Personal Statement-ku), kak Nila Husandi (yang memberikan semangat akan open-mindedness), mbak Wiwit Sariasih (yang mengajariku etika bagaimana berhadapan dengan interview), bapak Hasan (yang memberika semangat dan jiwa pantang menyerah, dan selalu membuatku berpikiran positif dengan diriku sendiri), ni Shanty (yang selalu memberikan contoh bagaimana terbuka perihal permasalahan yang ada), dan semua yang telah membantuku waktu itu, aku ucapkan, terima kasih banyak, dan bahkan ucapan terima kasih pun rasanya tidak akan cukup. Semua dokumen yang diminta, aku lampirkan. Semua pertanyaan di lampiran tersebut kujawab dengan sejujur-jujurnya. Masih teringat olehku pada waktu itu, ketika aku berada di dalam kelas, aku berkata pada mahasiswa, “mohon doakan saya ya, jika saya lulus beasiswa ke Amerika, nanti insya Allah saya akan kembali ke STKIP.” Mahasiswa menjawab, “insya Allah, pak, dan yang penting, jangan berubah ya, pak…tetap smile…” Aku beruntung mendapat mahasiswa yang penuh dedikasi di dalam menuntut ilmu. BP 2009 dan 2010, terima kasih ya atas doanya.

Tiga bulan kemudian setelah mengirimkan aplikasi, aku dihubungi oleh salah seorang staf AMINEF. Ibu yang menghubungi saya, bernama Isye. Beliau mengatakan bahwa aku termasuk ke dalam pelamar beasiswa yang berkas dokumennya lolos seleksi dari 9000 pelamar di seluruh Indonesia. Aku terharu. Dengan rasa senang, aku temui ibuku di rumah yang sedang menyapu teras rumah, kupeluk, dan aku berkata, “Ma, alhamdulillah, namaku termasuk ke dalam salah satu kandidat penerima beasiswa penuh ke Amerika Serikat!” Ibuku menangis, terharu. Suasana rumah, sejenak kemudian, menjadi sunyi. Sore harinya, bapakku pulang kerja, dan di mata ayahku, kulihat ia berkaca-kaca. Hanya satu kata yang ia katakan, “lanjutkan…” Hatiku ingin pergi, tapi bagaimana caranya aku ke Jakarta? Gajiku tidak cukup untuk bolak balik ke Jakarta. Alhamdulillah, namanya rezeki dari Allah SWT, tiket pesawatku dari kota Padang ke Jakarta bolak balik beberapa kali dari awal aku ditetapkan oleh AMINEF hingga berangkat ke Amerika Serikat, semuanya dibiayai oleh AMINEF. Itu pun, belum lagi biaya makan dan transportasi selama di Jakarta, biaya menginap di hotel Cikini-Jakarta, biaya tiket penerbangan dari Indonesia ke Amerika Serikat dan kembalinya juga…belum lagi biaya visa dan biaya lainnya untuk mengikuti tes TOEFL-iBT dan GRE, belum lagi biaya kelebihan bagasi, yang jumlah biayanya tidak sedikit, dan banyak lagi biaya lainnya. Sedikitpun untuk biaya-biaya ini, aku tidak pernah request atau minta dari kampus, karena, jika sudah dibiayai oleh beasiswa, mengapa minta lagi? Didukung untuk mengambil S2, aku pun sudah bersyukur. Semoga rezeki yang berlimpah dan kehidupan yang berkah diberikan kepada Ibu Zusmelia dan keluarga, bapak Dasrizal dan keluarga, dan bapak Ristapawa Indra dan keluarga, yang waktu itu mendorongku untuk bersemangat melanjutkan studi lanjut ke tingkat S2, serta kepada ibu Dhani dan bapak Nal, semoga keberkahan untuk bapak dan ibu.

Setelah satu tahun mengikuti alur seleksi beasiswa, mulai dari interview, TOEFL iBT dan GRE (yang harus tinggi nilainya), tes kesehatan (medical check-up) secara keseluruhan di R.S. M.Djamil, suntik MMR dan DP di Padang, sampai akhirnya proses aplikasi ke 5 universitas di Amerika Serikat, aku akhirnya mendapat informasi dari AMINEF. Sebuah titik terang. Aku menerima email bahwa ada shortfall. Ketika menerima informasi bahwa aku diterima menjadi mahasiswa di SIUE, dengan shortfall (biaya tak terduga) yang tidak sedikit, hampir $3475,00 (Rp. 36.570.000), aku panik. Biaya selebihnya ditanggung oleh pihak pemberi beasiswa, kecuali biaya yang tidak terduga ini. Aku menjadi linglung. Di pikiranku aku berpikir, “Aduh, sudah sejauh ini ada lagi ujiannya…Ke mana aku harus mencari dana sebanyak ini? Gaji per bulanku, tak akan cukup menutupi biaya ini. Harus menunggu 5 tahun terlebih dahulu, baru kemudian biaya ini bisa ditutupi. Bagaimana kalau meminjam? Aduh, aku tidak tega melihat ibu bapakku.” Akhirnya, aku membuat proposal. Rekan sesama penerima beasiswa ini yang berada di Papua, Sulawesi, dan Kalimantan, mendapatkan bantuan biaya Rp.25.000.000 dan bahkan ada yang sampai Rp.70.000.000 dari Pemda setempat di mana mereka tinggal. Aku juga berusaha hal yang sama. Proposal bantuan dana kukirim ke berbagai perusahaan di Indonesia, nihil. Ke instansi pemerintahpun, apalagi, nihil. Nihil. Pemda dan Pemkot di mana aku tinggal tidak memberikan apapun. Proposalku diterima, tapi kemudian dinyatakan hilang, padahal bukti surat diterima ada di Sekda. Aku disuruh ke Bendahara Daerah, tapi kemudian kembali lagi ke Sekda. Akhirnya, semangatku pupus. Jelas dimataku aku dibantu, Nampak di lembar disposisi, tapi kenyataannya, sampai sekarang pun itu semua menjadi kenangan saja. Aku ikhlaskan saja, makanlah, pak… Lalu, terbersit di pikiranku, “Oh ya? Aku kan dosen di STKIP, kenapa nggak ke STKIP saja? Apa salahnya aku mencoba? Selama ini, hingga aku dinyatakan lolos menerima beasiswa ini, sedikitpun aku tidak pernah meminta pertolongan, kecuali surat ibu Zusmelia. Tapi, apakah mereka akan membantuku?” Di hatiku, aku bertanya-tanya. Aku ragu, sekaligus, takut. Bagaimana kalau tidak berhasil?

Masih ingat olehku, aku beranikan diri langsung menemui pimpinan kampus. Ibu DR. Zusmelia (selaku wakil ketua I bid. Akademik) dan bapak Dasrizal (selaku wakil ketua II bid. Administrasi Umum dan Keuangan) sebelum menemui bapak Drs. Ristapawa Indra, M.Pd. (ketua STKIP PGRI Sumatera Barat) waktu itu. Aku tidak berani berbicara terlebih dahulu ke ketua prodi karena yang aku khawatirkan adalah pesan berantai kata-kata seringkali bertambah-tambah dan cenderung berbeda dari yang dimaksudkan. Nanti, apa yang aku maksudkan ke ketua prodi, berbeda penyampaiannya ke ketua STKIP. Waktu itu, ketua prodi pendidikan bahasa Inggris adalah bapak Hasan Basri, yang akan digantikan oleh ibu Dra. Yelfiza, M.Pd. (panggilan, ummi).

Surat shortfall yang aku terima dari AMINEF, aku perlihatkan terlebih dahulu kepada ibu DR. Zusmelia, M.Si karena beliau mengurus persoalan akademis di kampus. Aku jelaskan kronologis alasan mengapa aku membutuhkan pertolongan, atau bantuan dana. Kepada bapak Drs. Dasrizal, MP. juga aku jelaskan secara jelas. Seminggu setelah itu, aku dipanggil oleh bapak Das. Alhamdulillah, aku disetujui oleh pihak pimpinan dan yayasan STKIP PGRI Sumatera Barat untuk dibantu. Nominal yang dibantu oleh kampus adalah Rp. 35.000.000 untuk satu tahun (kabarnya, jumlah segini tidak berarti apa-apa untuk hidup di Amerika Serikat selama satu tahun) dan gajiku sebesar Rp.945.000 per bulan waktu itu dihidupkan, alias dibayarkan dengan penuh, hingga aku pulang nanti, yaitu tercatat dari bulan Agustus 2011 hingga Mei 2013. Aku pun sujud syukur atas kebaikan ibu Zusmelia dan bapak Dasrizal. Aku tidak pernah mengambil muka pada mereka, namun sebagai pimpinan, tentu mereka sudah malang melintang perihal memahami pola perkembangan anak manusia di dalam dunia kerja. Sebagai persyaratan dan konsekuensi, yaitu aku harus menandatangai perjanjian 2n+1, yang diatur oleh Dirjen Dikti. “n” berarti lama studi, maka karena aku studi di Amerika Serikat selama 1 tahun 10 bulan (dibulatkan menjadi 2 tahun), maka 2 (2) + 1 = 5 tahun. Jadi, setelah aku pulang dari Amerika Serikat, aku mengabdi di STKIP PGRI Sumatera Barat, dari tahun 2013 hingga 2017 nanti. Di hatiku, tidak apa-apa. Kebaikan pimpinan kampus di dalam mendukung semangatku untuk melanjutkan studi tingkat lanjut patut aku hargai dan tentu, mengabdi di STKIP PGRI Sumatera Barat selama kurun waktu tersebut, bukan persoalan yang merugikan, malah aku bersyukur dan berterima kasih masih diterima bekerja di sana. Peraturan 2n+1 ini berarti selama 5 tahun tersebut aku bekerja menjadi dosen, namun jika di masa 2n+1 ini aku diterima di program Doktor, tentu kampus akan sangat senang sekali karena di satu sisi, aku diberikan kebebasan akademis untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, sementara di sisi lain, kampus pun mendapatkan SDM bersertifikasi pendidikan ber-level internasional sehingga hal ini tentu diharapkan bisa membantu akreditasi prodi dan institusi. Bukankah dosen itu, tonggak dari sebuah perguruan tinggi? Bagiku, kalau keberadaanku dengan prestasiku di sana membantu orang banyak, kenapa tidak? Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?

Jika dilihat kembali, ternyata untuk mendapatkan beasiswa Fulbright ini, menjadi dosen dari sebuah PTN/PTS saja atau memenuhi semua dokumentasi saja tidak menjamin lulus beasiswa ini. Rekan sesama pelamar dari PTN, ada yang tidak lulus, meskipun itu mendapat rekomendasi dari rektornya. Yang dipentingkan dari beasiswa ini sepertinya adalah profil si penerima beasiswa, apakah ia cocok dengan visi dan misi beasiswa Fulbright? Apakah ia akan berbagi ilmu dengan rekan-rekan dan masyarakat Indonesia nantinya setelah ia pulang dari Amerika Serikat? Bukan menjadi orang penting dan terkenal yang diharapkan dari beasiswa ini setelah kembalinya di Indonesia, melainkan menjadi individu yang berani tampil beda, memiliki visi dan pandangan ke depan, serta menjadikan dirinya sebagai kader pengembangan pendidikan, keilmuan, dan pengalaman internasional kepada saudara setanah airnya di Indonesia, terutama kepada generasi muda. Tidak muluk, bukan? Namun, tentu, harus banyak belajar lagi karena dalam hidup, akal yang diberikan kepada manusia sejatinya adalah untuk menjadikan mereka makhluk pembelajar dan terpelajar. Banyak orang Indonesia yang tidak memiliki kesempatan untuk studi di negeri orang, tentu selalu membutuhkan pencerahan dan berbagi ilmu serta pengalaman adalah kuncinya untuk percepatan perkembangan Indonesia ke depan. Itupun kalau sudah siap menghadapi tantangan global.

Pada Agustus 2011, aku pun berangkat ke Amerika Serikat, dengan penerbangan ke Los Angeles, melalui Narita, Jepang. Tiket ini pun dibiayai oleh AMINEF. Mei 2013, aku menyelesaikan studi S2-ku. Pulang ke Indonesia, melalui Hong Kong dari Chicago, aku berangkat. Tiketnya pun lagi-lagi dibiayai oleh AMINEF. Ingin lanjut ke S3, namun orang tua tidak merestui, jadi aku pulang. Menikah dan melanjutkan kerja sebagai dosen di STKIP PGRI Sumatera Barat. Sebagai seorang anak, tentu aku tidak ingin membuat rindu orang tuaku padaku terlalu lama. Aku pulang. Aku pun rindu pada mereka. Juni-Juli 2013, aku beristirahat dan beradaptasi kembali dengan suasana dan budaya Minangkabau, yang jauh sekali berbeda dengan budaya Barat, baik bahasa, maupun persoalan humanitis sosial. Hingga saat ini pun, aku masih beradaptasi. Adaptasi yang lama, memang.

Pengalaman lain dan unik pun aku alami semenjak pulang dari Amerika Serikat. Ada bermacam warna dan rasa. Ke semua itu jika diceritakan, tentu akan menjadi sebuah novel yang panjang dan berliku-liku, tiada berkesudahan. Satu hal aku masih ingat, yaitu ketika aku diminta berjanji untuk menjaga informasi beasiswa ini karena pada waktu itu, banyak (serius, hampir semua) dosen di STKIP PGRI Sumatera Barat yang akan dan sedang studi S2, tentu mendengar aku dibantu oleh yayasan, membuat mereka cemburu dan iri. Jadi, aku berjanji tidak akan memberitahukannya pada siapa-siapa. Aku tentu tidak ingin banyak dosen lainnya yang protes ke pimpinan dan yayasan karena aku. Harapan pimpinan kampus dan terutama yayasan sangat besar padaku. Mereka senang bahwa ada salah satu dosennya yang berhasil lulus meraih beasiswa bergengsi di dunia, Fulbright. Jika keberadaanku bermanfaat bagi mereka dan membantu yang lainnya, kenapa tidak? Apa di kata, sepulang dari Indonesia, angin besar menghadang, bahwa aku dikatakan dibiayai oleh STKIP PGRI Sumatera Barat, sepenuhnya. Seorang mahasiswa bernama Joko Prawoto dan beberapa mahasiswi lainnya di kelas BP 2010 waktu itu, mengabarkan bahwa ada dosen yang bercerita tentang hal ini. Aku menjadi kaget. Terus dan terus hingga ke sini, ada-ada saja yang terjadi. Namun, itu semua menjadi pengalamanku sendiri yang sangat berarti. Baik senang, maupun buruknya, aku kembalikan sepenuhnya kepada Allah SWT. Cukuplah kebenaran itu, Allah SWT yang tahu. Pun demikian dengan kita, jika kita tahu aib seseorang, wajib bagi kita menjaganya. Jika kita tahu kebenarannya seperti apa, namun diputarbalikkan, sebagai orang terpelajar tentu kita tahu situasi seperti apa yang sedang kita hadapi.

Jadi, kesimpulan dari ceritaku ini adalah bahwa beasiswa yang aku raih ini karena rezeki dari Allah SWT melalui kerja kerasku sendiri, kebulatan tekad untuk menjalani semua test selama satu tahun itu, bukan pemberian dari pihak manapun. Aku diseleksi untuk level Indonesia. Namun, tentu tidak dapat kupungkiri, aku juga dibantu, meski dalam jumlah yang tidak seberapa untuk konteks studi lanjut di luar negeri. Sekarang, aku kembali bekerja di STKIP PGRI Sumatera Barat, menjadi dosen yang belajar untuk sederhana, cendekia, bersahaja, jujur, berkompetisi dengan semangat sportif dan jiwa besar, mengalah dalam bingkai memenangkan orang lain, mendewasa dalam kerangka waktu dan pengalaman, belajar arif dan menerima kritikan dari kesalahan, dan terutama, berbagi ilmu serta mencerdaskan kehidupan berbangsa melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Insya Allah.

Sebuah kutipan menarik tentang pemahaman lintas budaya:

“We also believe that the respect for one’s own culture and willingness to understand those of others are pre-requisite for establishing good cross-cultural relationships” – Seran Dogankay-Aktuna and Joel Hardman in Principles and Practices of Teaching English as an International Language, 2012, Bristol, p. 131.

(Jika ada yang salah dari tulisanku ini, aku meminta maaf dan, kelebihanku itu datangnya dari Allah SWT, dan segala kekuranganku, itu semua datangnya dari diriku sendiri yang lemah dan jauh dari kesempurnaan).

Bukan di mana seseorang bekerja yang menentukan nilai seseorang. Seseorang itu bernilai dari apa yang telah ia berikan kepada lingkungannya, baik itu dihargai, diketahui oleh orang lain, atau tidak sama sekali… (Syayid Sandi Sukandi)

Ramadhan 1436 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

====================================================

Untuk tulisan tentang topik yang sama dan berbahasa Inggris, silahkan click links di bawah ini:

https://syayidss.wordpress.com/pre-fulbright-experiences/

https://syayidss.wordpress.com/category/pre-fulbright-experiences/

https://syayidss.wordpress.com/category/during-the-fulbright-experiences-2011-2013/

https://syayidss.wordpress.com/category/post-fulbright-scholarship-after-2013/

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s