Pasca Studi di Luar Negeri: Siapkah Indonesia dengan Tuntutan Zaman?

 

AcademicMemiliki pengalaman studi di luar negeri adalah pengalaman berharga yang bisa diraih oleh seorang pemuda Indonesia. Bukan saja karena studi di luar negeri membutuhkan persiapan yang matang, studi di negara orang lain juga membutuhkan kebulatan tekad untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, apakah yang akan dibawa oleh pemuda-pemudi Indonesia setelah kembali studi dari negara orang lain tersebut? Berikut ini saya akan memaparkan, mungkin tidak banyak, tentang tantangan dan kesempatan yang saya alami sekembali dari Amerika Serikat untuk mengikuti program pendidikan tingkat pasca-sarjana, S2 di Southern Illinois University Edwardsville.

Tantangan pertama yang dihadapi adalah pandangan pujian, sekaligus skeptis dari beberapa lulusan dalam negeri yang bekerja di beberapa perguruan tinggi di daerah. Artinya, pandangan pujian selalu datang dari insan cendekia yang memang bisa menghargai prestasi akademik orang lain berskala internasional dan pandangan skeptis berasal dari individu-individu yang merasa iri dengan kelebihan orang lain, dan sedapat mungkin untuk menjatuhkan si pemuda atau pemudi yang studi di luar negeri tersebut. Hal ini memang rasanya tidak masuk akal, namun tentu menjadi kendala yang sangat unik untuk pengembangan Indonesia ke depan.

Tantangan ke dua yang dihadapi adalah berkaitan dengan hal administratif. Tidak sedikit yang komplain mengenai penyetaraan ijazah, namun bagi saya pribadi itu baik, sepanjang hal administratif ini bertujuan untuk proses “mengakui” ijazah luar negeri tersebut. Jika saya perhatikan, sistem pendidikan luar negeri, lebih terfokus sehingga pola pendidikan tinggi di negara tersebut telah mementingkan proses belajar daripada hasil atau produk yang bisa dihasilkan. Selain penyetaraan ijazah, tantangan lainnya adalah mengenai jabatan akademik, fungsional, dan golongan. Tiga hal ini  harus diurus sedemikian rupa terlebih dahulu, baru hak sebagai dosen diperoleh. Terkadang, urusan sertifikasi dosen pun belum tentu mengalami proses yang mulus, malah berliku-liku, alias data di forlap belum ter-update dan sistem online Indonesia yang masih belum se-update yang ada di negara-negara maju. Akibatnya, dosen yang benar-benar fokus kepada kegiatan akademis terkendala karena urusan administratif seperti ini.

Tantangan ke tiga berkaitan dengan tuntutan studi di luar negeri. Jika anda menamatkan pendidikan tingkat S2 di luar negeri, maka besar kemungkinan anda wajib studi di luar negeri untuk tingkat S3. Pertanyaannya adalah, studi di luar negeri tidak semudah studi di dalam negeri. Ada proses berliku dan ala kelok sembilan yang harus dihadapi untuk bisa studi di luar negeri. Apakah sama tantangan yang dihadapi ketika seseorang studi di universitas ternama di luar negeri dengan persyaratan yang mendunia, sementara di dalam negeri, persyaratan yang sama tidak diberikan pada level yang sama? Selain itu, proses untuk bisa diterima S3 pun tidak semudah yang dibayangkan. Jika sebuah Perguruan Tinggi memang berdedikasi untuk memajukan kualitas pendidikannya, maka PT tersebut tidak hanya mendorong dosennya untuk S3, tapi juga harus konsisten dalam hal membantu dosen tersebut menamatkan studinya tepat waktu dan dengan kualitas yang baik. Jika dosen tersebut dibiarkan saja sendiri menghadapi segala tantangan yang dihadapi di luar negeri, maka amat disayangkan jika banyak lulusan luar negeri dari sebuah PT ingin pindah dari PT tersebut karena apa yang mereka butuhkan tidak terdapat di sana.

Selain tantangan, kesempatan juga ada setelah studi di luar negeri. Kesempatan yang ada adalah pemenuhan publikasi di jurnal internasional. Oleh karena lulusan luar negeri memang di-design untuk memenuhi kebutuhan internasional, maka kesempatan publikasi jurnal internasional terbuka untuk mereka. Namun, di saat yang sama, administrasi di Indonesia pun kembali mengganggu, seperti, aspek linearitas, karena sistem penelitian di Indonesia belum lagi inter-study. Di Indonesia, linearitas dikenal untuk gelar S1, S2, dan S3 yang bidangnya sama (nah, ini berat lho, nggak gampang). Penelitian jadi lebih terfokus, itu bagus, hanya saja, sayangnya peneliti sering stuck dan bosan mengkaji yang sama terus-menerus. Jika bidangnya Teaching, maka penelitiannya tentang Teaching, bagaimana jika ia suatu saat punya ide cemerlang tentang Teknologi? Bisakah dikaitkan dengan Teaching?

Intinya, setelah studi di luar negeri, kami dihadapkan kepada kondisi di mana kami harus tetap tampil bagus, sementara lingkungan, kesempatan, administrasi, appresiasi, dan prosedur yang ada tidak terlalu mendukung kami untuk maju melangkah ke masa depan yang lebih baik. Saya pun tidak sedikit dan tidak sekali, mendengar akademisi berkata, “yang penting gelar, masalah luar negeri atau dalam negeri, itu terserah”.” Saya cuma prihatin. Jika begitu, untuk apa ya pemuda-pemudi Indonesia yang berkorban perasaan jauh dari keluarga, menantang maut dengan suhu yang minus, bersabar dengan pola makanan yang tidak sesuai selera kadang-kadang, setibanya di Indonesia, dianggap, “kamu lulusan luar negeri? trus, apa? mau bangga-banggain diri di sini? Ini Indonesia, bung! kalau nggak mau, balik aja gih ke negara di mana kamu studi dulu!” Saya pun semakin prihatin. Memang tidak semua lulusan luar negeri yang bagus, namun setidaknya tanyalah proses apa yang ia lalui sehingga bisa studi di negeri orang tersebut. Yang kami inginkan adalah kesempatan untuk mengembangkan Indonesia melalui ilmu yang kami miliki. Kami tidak butuh jabatan, tapi kami butuh kesempatan untuk berkembang demi Indonesia. Jika terkendala dengan keputusan sepihak yang seringkali terjadi di Indonesia, salahkah kami memang brain drain itu terjadi?

Yang lebih menyedihkan adalah pernyataan ini: “kamu maunya yang gratisan, tentu iya. kami saja studi dalam negeri pakai uang sendiri!” Rasanya, ingin pergi saja ke negara orang tersebut dan mengabdi di sana. Tahukan biaya yang kami keluarkan ketika studi di luar negeri? Tidak akan terbeli dan sebanding dengan rekan-rekan yang studi di dalam negeri. Apa saja itu? Tanyalah kepada yang lulusan luar negeri.

Siapkah Indonesia dengan tuntutan zaman? Indonesia dituntut untuk meng-global, mengapa harus menutupi diri dengan kesempatan yang ada?

Padang, 31 Mei 2015 

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s