“Menulis itu, apa sekedar Menulis saja?”

Pengetahuan lebih baik daripada banyak harta. Meskipun banyak harta, tanpa pendidikan, harta tersebut tetap akan habis. – Syayid 2012

Saya mendapat suatu kehormatan diwawancara oleh dua penyiar baik hati dari Radio IMSA. IMSA adalah singkatan dari Indonesian Muslim Society in America. Salah satu penyiar yang mewawancari saya adalah Maya Wulandari. Beberapa hari setelah diinterview, saya punya ide untuk berbagi sedikit nuansa mengenai Ilmu Komposisi yang sangat erat kaitannya dengan dunia tulis menulis. Oleh sebab itu, tulisan kali ini bertema “Tulisan”. Isi tulisan ini akan berkaitan dengan Tulis Menulis, Ditulis, dan Menuliskan. Pola penulisan ide pada tulisan ini pada dasarnya sederhana, namun difokuskan kepada aspek kebahasaan (linguistik) dan kreatifitas berbahasa (sastra dan budaya). Perlu diingat, tulisan ini tidak bersifat teoretis. Kalau untuk teori, sudah banyak tersedia di berbagai pustaka. Tulisan ini berfokus pada sisi lain dari menulis.

T: Menurutmu, menulis itu apa?

J: Bagi saya, menulis itu kemampuan tertinggi yang dimiliki manusia untuk bisa berkomunikasi sesama manusia melebihi dimensi waktu dan peradaban.

T: Sederhananya?

J: Begini, ketika kita menulis, kita merangkai kata berdasarkan apa yang kita pikirkan pada saat kita menulis. Apabila tulisan kita dibaca oleh orang lain pada dimensi waktu yang sama, nuansa makna yang ada mungkin tidak terlalu dipermasalahkan. Ketika sebuah tulisan bisa tetap eksis hingga ratusan tahun setelah tulisan tersebut disebarluaskan, maka tulisan tersebut bisa dinilai berkualitas. Karena kualitas inilah, maka manusia yang hidup diberbagai zaman bisa saling berkomunikasi. Perbedannya hanya pada bahasa itu sendiri, sebab bahasa dinamis, tidak stagnan, begitu-begitu saja.

T: Tadi Anda berkata tentang kualitas tulisan, menurut Anda, tulisan yang berkualitas itu seperti apa?

J: Berkualitas atau tidaknya sebuah tulisan itu sifatnya relatif. Bisa jadi tulisan seorang penulis bernilai luar biasa bagi pembaca yang kebetulan satu ide dan alam pikirannya sejalan dengan si penulis. Demikian pula dengan hal-hal teknis seperti pemilihan kosakata, tata bahasa, susunan ide, dan gelombang afektif. Tulisan yang berkualitas tidak melulu dan tidak mutlak seperti tulisan yang penuh dengan kata-kata asing dan terdengar aneh. Tulisan berkualitas menggunakan bahasa yang mengalir, tidak ada hambatan, dan si pembaca merasa diajak berdiskusi dengan si penulis. Seringkali, beberapa teks ada yang sifatnya menggurui dan terkesan bahwa si penulis mau unjuk rasa atau bahkan memaksakan suatu ideologi tertentu kepada pembaca. Nah, pada dimensi ini, pembaca yang kritis tidak menerima begitu saja pesan yang disampaikan oleh si penulis. Berkualitas atau tidaknya sebuah tulisan, bergantung kepada si pembaca. Penulis yang handal sudah pasti pembaca yang kritis. Namun, pembaca yang kritis belum tentu menjadi penulis yang handal. Jadi, pilihan jatuh kepada si pembaca. Meskipun demikian, hal mendasar seperti hal-hal teknis berupa kosakata dan tata bahasa yang saya sebutkan di atas juga bisa mempengaruhi kualitas sebuah tulisan. Buruknya penulisan ejaan juga mempengaruhi kualitas sebuah tulisan.

T: Apa Anda seorang penulis?

J: Saya belum bisa mengatakan saya seorang penulis. Sebab, kata “penulis” saat ini memiliki banyak arti. Namun, yang jelas, karena saya senang menulis dan mengasah nalar, maka saya bisa mengatakan bahwa saya memang seorang penulis. Bagi masyarakat umum, penulis identik dengan karya tulisan yang sudah dipublikasikan. Saya malah cenderung untuk tidak mempublikasikan karya saya. Sebab, membuat sebuah tulisan layak terbit, butuh penilaian dari aspek bisnis dan profit serta popularitas. Hal inilah yang membuat saya urung niat untuk publikasi. Tapi, jika nanti memang ada kesempatan dan ada penerbit yang meminta karya novel saya, kenapa tidak? Meski niat utama bukan materi, profit, atau popularitas. Menulis sejatinya demi kepentingan jiwa saya yang suka berfikir acak.

T: Anda saat ini di Amerika, apa yang Anda pelajari?

J: Saya belajar Pengajaran Menulis (Retorika dan Komposisi) untuk S2 saya. Bidang utamanya adalah Bahasa dan Sastra Inggris, dengan orientasi kepada Komposisi dan Retorika. Ilmu ini adalah campuran antara ilmu linguistik, sastra – budaya, dan pendidikan karena saya juga belajar pedagogi pengajaran. Kalau di Indonesia, saya bisa masuk ke ilmu murni, bisa juga ke ilmu kependidikan. Jadi, ilmu ini sifatnya fleksibel.

T: Pada saat Anda mengajar Menulis, apa yang menjadi target utama Anda?

J: Saya mengajar bahasa dan beberapa kursus lainnya bukan karena target tertentu. Bagi saya, jika mahasiswa tersebut bisa menulis dengan bahasa yang baik dan benar serta jalinan ide yang mereka sampaikan mudah dimengerti, itu sudah bagus. Memaksakan mereka untuk bisa mencapai tingkat kepenulisan yang tinggi rasanya mustahil. Sebab, menulis butuh imajinasi dan kematangan serta dukungan. Tanpa imajinasi, tulisan bisa terasa hambar. Oleh karena itu, jika mahasiswa sudah bisa menuangkan ide dan gagasannya ke dalam sebuah tulisan yang utuh dan saling melengkapi, saya rasa sah-sah saja meluluskan mereka untuk masuk ke tingkat yang lebih tinggi.

T: Adakah kendala yang Anda alami selama mengajar Komposisi?

J: Oh, ada! Banyak sih tidak, sedikit juga tidak. Salah satu kesalahpahaman yang terjadi pada pengajaran bahasa Inggris di Indonesia adalah pembaikan grammar jatuh kepada si pengajar, meski pada dasarnya si pelajar harus tahu terlebih dahulu letak salahnya di mana. Sekali kesalahan ini diberitahu, si pelajar harus segera ingat dan pada kesempatan menulis berikutnya, kesalahan ini bisa diperbaiki dan ditingkatkan. Sebagai seorang dosen Bahasa Inggris, saya menyadari betul bahwa menulis itu sulit bagi mahasiswa, apalagi bagi mereka yang malas membaca dan malas mengasah nalar. Namun, masih ada harapan. Ada saja semangat untuk maju di dalam diri mahasiswa, itu sudah modal utama untuk bisa menulis dengan baik. Jadi, grammar itu sejalan dengan menulis, tidak bisa dipisahkan. Menguasai grammar belum menjamin seseorang bisa menulis dengan baik. Ada level syntax yang harus dipahami dan ada aspek kosakata yang dipahami. Sembarangan memilih sinomin bisa berakibat fatal, misalnya: salah interpretasi di sisi pembaca.

T: Apa pesan Anda pada mahasiswa yang sedang belajar Menulis dengan Baik?

J: Modal utama menulis adalah kejujuran pada diri sendiri. Bila Anda tidak jujur, tulisan Anda akan terkesan hambar dan tidak akan bertahan lama di kalangan pembaca. Di samping sering membaca karya tulis orang lain, sering-seringlah juga menulis ide Anda dengan gaya Anda sendiri yang unik. Jika tidak, Anda hanya akan menjadi seorang pembaca. Lebih lanjut, menulis itu butuh kesabaran. Bila tulisan Anda dianggap tidak bagus atau jelek, bukan berarti tulisan Anda tidak berkualitas ya. Yang pasti, tetap menulis dan tetap membaca. Yuk, mari kita jadikan generasi penerus sebagai generasi pembaca dan penulis. Apa yang kita tulis akan menjadi ilmu dan pengetahuan baru bagi generasi seterusnya.

—— (Kalau Anda ada pertanyaan, silahkan isi kolom komentar di bawah, saya akan mencoba menjawabnya sesegera mungkin).

Edwardsville, Illinois, the United States 2012

To all my brothers and sisters in Muslim Students Association of SIUe, thank you very much for all of the lovely ifthar and, of course, Eid Mubarak 2012! – Syayid Sandi Sukandi

4 thoughts on ““Menulis itu, apa sekedar Menulis saja?”

  1. Asyik, dapat wawasan baru nih. Betul, mungkin ini hanya masalah gaya bahasa. Boleh jadi saya termasuk orang yang lugas, sehingga If I were you, I’d like to write “Bila penulis dimaknai sebagai orang yang senang menulis dan mengasah nalar, maka saya memang seorang penulis.” Demikian juga dengan pernyataan yang selanjutnya.

    Terima kasih banyak. Alhamdulillah, saya beruntung berkenalan dengan blog ini – bisa banyak belajar.

    Salam,
    Mieke

    • Iya, betul sekali, Mieke. Gaya bahasa setiap penulis berbeda-beda. Meskipun bahasa yang digunakan di dalam menulis sifatnya sama, pola penuturan makna di dalam bahasa tersebut berkaitan dengan cara si penulis tersebut menyampaikan idenya secara kreatif. Semoga penjelasan ini bisa membantu.

      Saya senang bisa berbagi ilmu dan wawasan.

      Salam,
      Syayid (penulis dan pemilik ide pada The Silent Corner)

  2. Tidak biasanya tulsan Anda sedikit berbelit. Misalnya dalam sebagian paragraf berikut ini,

    “Saya belum bisa mengatakan saya seorang penulis. Sebab, kata “penulis” saat ini memiliki banyak arti. Namun, yang jelas, karena saya senang menulis dan mengasah nalar, maka saya bisa mengatakan bahwa saya memang seorang penulis . . . .”

    Saya merasa aneh membaca penggalan paragraf di atas.

    Yang janggal lagi adalah saat membaca penggalan paragraf berikut yang merupakan jawaban atas pertanyaan “Pada saat Anda mengajar Menulis, apa yang menjadi target utama Anda?”

    Ini jawaban Anda:

    “Saya mengajar bahasa dan beberapa kursus lainnya bukan karena target tertentu. Bagi saya, jika mahasiswa tersebut bisa menulis dengan bahasa yang baik dan benar serta jalinan ide yang mereka sampaikan mudah dimengerti, itu sudah bagus. Memaksakan mereka untuk bisa mencapai tingkat kepenulisan yang tinggi rasanya mustahil. Sebab, menulis butuh imajinasi dan kematangan serta dukungan. Tanpa imajinasi, tulisan bisa terasa hambar. Oleh karena itu, jika mahasiswa sudah bisa menuangkan ide dan gagasannya ke dalam sebuah tulisan yang utuh dan saling melengkapi, saya rasa sah-sah saja meluluskan mereka untuk masuk ke tingkat yang lebih tinggi.”

    Saya menyimpulkan bahwa “mahasiswa sudah bisa menuangkan ide dan gagasannya ke dalam sebuah tulisan yang utuh dan saling melengkapi” adalah target Anda saat Anda mengajar Menulis.

    Maaf, saya sok tahu. Saya sama sekali bukan penulis. Saya hanya membuka klinik akupunktur dan mengajar akupunktur di sebuah Lembaga Pendidikan Akupunktur di Bandung.

    Salam

    • Terima kasih, Mieke atas responnya. Senang sekali saya mendapat respon yang cukup konstruktif. Nah, pada tulisan kali ini, pola penulisan yang saya miliki ini disebut dengan “gaya bahasa”. Meskipun tata bahasa bahasa Indonesia yang saya kuasai dan tuangkan ke dalam tulisan di atas bersifat sederhana, namun yang perlu diperhatikan adalah pola penuturan makna yang disampaikan. Kesan berbelit yang disampaikan mungkin terjadi karena konsep “menulis” yang ada di pikiran saya dengan yang ada pada Mieke sedikit berbeda.

      Jika diperhatikan dengan seksama mengapa saya menulis kalimat ini,

      “Saya belum bisa mengatakan saya seorang penulis. Sebab, kata “penulis” saat ini memiliki banyak arti. Namun, yang jelas, karena saya senang menulis dan mengasah nalar, maka saya bisa mengatakan bahwa saya memang seorang penulis . . . .”

      Pola penulisan seperti di atas disebut gaya bahasa. Jika saya langsung saja mengatakan, saya adalah seorang penulis, akan timbul beberapa pertanyaan:
      – penulis apa?
      – penulis bayarankah?
      – penulis tulisan apa?
      – penulis yang bagaimana?
      dan sebagainya.

      Oleh sebab itu, sedikit diberi konteks pada urutan kata sebelumnya, yakni pada “…karena saya senang menulis dan mengasah nalar,…”, maka makna “penulis” di sini menjadi lebih spesifik. Pembaca kritis akan langsung mengerti bahwa saya adalah seseorang yang hobby-nya menulis.

      Kegamblangan penggunaan bahasa itu baik, namun jika digunakan tanpa konteks, maka yang akan terjadi adalah pembuyaran makna.
      Hal serupa juga saya gunakan pada jawaban yang Mieke kutip di atas. Coba baca beberapa kata kunci dan konteks yang saya tuturkan sebelum kesimpulan yang Mieke ambil.
      Mieke memang benar bahwa pernyataan tersebut adalah kesimpulannya. Namun, dalam hal ini, penjabaran yang diberikan sebelumnya pada dasarnya bersifat membantu memberikan konteks dan makna pada pembaca awam. Penggunaan kata, “oleh sebab itu,…” juga mengindinkasikan sebuah kesimpulan. Menyatakan sebuah kesimpulan tanpa memberikan konteks pada pembaca bukan sikap yang baik pada seorang penulis.

      Semoga bisa membantu penjabarannya.

      Salam,
      The Silent Corner

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s