“Revolt in Paradise” by K’Tut Tantri: A Novel by a Hollywood Actress

Revolt in Paradise

Siapa orangnya di dunia ini yang tidak mengenal nama daerah ‘Bali’? Dunia mungkin dan pasti mengakui Bali sebagai Paradise Island. Bali termasuk ke dalam wilayah sebelah Timur Indonesia, yang kaya dengan unsur seninya berupa musik, tari, lukis dan segala bentuk kebudayaan yang ada di dalamnya. Keunikan Bali seperti ini yang kemudian membuat K’tut Tantri, penulis buku ini, untuk tinggal di Indonesia selama lima belas tahun untuk benar-benar menyelami rupa kehidupan yang ada di Bali.

Buku ‘Revolt in Paradise’ secara keseluruhan bercerita tentang kisah seorang wanita muda berkebangsaan Amerika yang berada di dalam proses pencarian kebahagiaan bagi dirinya. Kebahagiaan yang ia temukan ternyata berada di Bali, setidaknya itulah yang ia rasakan selama proses pencariannya itu. Selama kurun waktu tersebut, mulai dari tahun 1932, ia mengalami warna-warni kehidupan yang ada di Bali, hingga ke daerah Surabaya dan Yogyakarta.

Selain hal di atas, jika dilihat dari segi isi, cerita K’tut Tantri memiliki roh tersendiri dibanding dengan novel-novel serupa. Ini terlihat dari alur certa, gaya bercerita, dan proses penyambungan antara ‘opening’ dan ‘closing’. Pada dasarnya, ada tiga bagian utama yang disuguhkan. Dari ketiga bagian inilah yang membuat cerita di buku ini sayang untuk dilewatkan oleh pembaca sastra. Walaupun dari segi bahasa terkesan biasa, namun, bobot ceritanya sangat padat, dan kaya untuk dijadikan sebagai bahan ‘kajian sastra dunia’ untuk studi sastra komparatif.

K’tut Tantri menyadari bahwa ia masih mencari makan hidupnya. Ini tampak ketika ia menuju Amerika, tepatnya di New York. Dengan temannya seorang China, ia akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan memang bukan pada harta. Ia pun meyakini bahwa semakin banyak kita berkorban, maka semakin baik, kehidupan nanti yang akan kita lalui. Dengan kata lain, ini bisa dikatakan sebagai ‘amal kehidupan’. Pada akhir cerita, ia masih mencari makna akan hadirnya kebahagiaan. Namun, ia pernah merasakannya bersama The Rajah, Anak Agung Nura, Wayan, Nyoman, dan keluarganya yang ada di Bali, meskipun selama ia di Bali, ia melewati masa-masa pahit mengahadapi kolonialisme Belanda dan penjajahan Jepang.

Benar-benar sebuah cerita tentang betapa beratnya perjuangan para generasi terdahulu dalam mencari kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga generasi selanjutnya bisa mempertahankan dan meningkatkannya.

Amin!

—————————————

Dipublikasikan kembali dari A Space of Learning and Thought dengan tujuan berbagi tapi tidak untuk diplagiat. Terima kasih.

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s