Jangan Membanding-bandingkan

Jangan Membanding-bandingkan

Tulisan di bawah ini disadur dari Hooper (1995: 31-34)

Dunia mungkin menjadi tempat yang lebih baik, apabila satu kata dihapuskan dari kamus kita. Dan kata itu adalah “membandingkan”, dengan segala variasinya. Saya petik definisi kata tersebut dari dua kamus terkenal: “menjadi sebaik seperti…”; “mengetengahkan bersama-sama dengan maksud melihat hal-hal yang sama dan berbeda.”

Kata tersebut bertanggungjawab atas ribuan, bahkan jutaan orang yang hidup dalam bayang diri negatif. Merasa diri berbeda dengan orang lain, bermula saat Anda mulai belajar di sekolah. Bila Anda dikaruniai kakak, mungkin bermula sebelum Anda belajar bicara atau berjalan.

“Mengapa kamu tidak dapat menjadi anak yang baik, seperti kakakmu?” “Mengapa nilai rapormu jelek, tidak seperti kakakmu?!” “Kakakmu menjadi bintang kelas, dan kamu tidak berusaha untuk mencobanya!”

Secara sadar atau tidak, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain dan berakhir dengan perasaan lebih rendah. Berpaling adalah wajar, karena mungkin kita kurang cakap pada beberapa aspek kehidupan. Tetapi, hal itu tidak berarti suatu kegagalan. Seperti Will Roger pernah berkata: “Kita semua kurang cakap, kecuali membedakan.” Membandingkan seseorang dengan orang lainnya adalah kurang adil, dan tidak logis. Sudah menjadi hukum alam, bahwa tidak ada dua orang yang sama persis. Fakta itu cukup membuktikan bahwa kegagalan dan kekeliruan berpangkal dari perbandingan. Tentu saja, ini berlaku dalam dua arah. Jika tidak benar membandingkan diri Anda atau tidak menyenangkan dibanding orang lain, maka adalah keliru jika membandingkan diri dengan yang lebih “di atas”.

Meskipun mungkin di atas angin dalam beberapa aspek, Anda juga ada kekurangan dalam beberapa hal yang lain. Prinsip yang sama berlaku pada setiap orang, sehingga mengapa membanding-bandingkan? Setiap orang dilahirkan dengan bakat-bakat tertentu yang tiada berhubungan dengan keturunan. Banyak orang yang percaya, bahwa bakat diwariskan dari kehidupan sebelumnya. Teori ini menjelaskan mengapa sebagian orang harus bekerja keras agar menjadi terampil, sementara lainnya menjadi lebih cakap dengan sedikit usaha saja. Bila teori ini benar, maka satu lagi alasan yang menentangnya.

Tidak sulit memberikan penilaian yang salah pada peranan seseorang sebagai penentu. Kesalahan ini sering terjadi dalam dunia olahraga. Setiap pemain duduk di belakang pemain giliran ke 10 yang melakukan pukulan home run pada suatu kompetisi baseball. Tanpa mempedulikan pemukul yang lihai melakukan tandukan maut pada giliran lebih awal, sehingga memberikan kesempatan seorang pelari yang kemudian memberikan nilai tunggal. Jika tak ada usaha yang tercampakkan, permainan akan berkesudahan dengan kekalahan dan tidak ada giliran ke 10. Tetapi dalam penglihatan penonton yang awam, tiada perbandingan antara dua usaha itu. Pemukul home run adalah sang pahlawan.

Hampir tidak pernah ada dalam kehidupan ataupun dunia olahraga, bahwa kemenangan dimenangkan sepenuhnya oleh seorang saja. Saya gembira membaca suatu tulisan tentang kompetisi baseball. Penulis artikel itu, selain memuji pelempar bola juga memuji pemain-pemain lainnya. Dia menandaskan bahwa setiap pemain mempunyai andil dalam kemenangan, dan ini adalah benar.

Bila Anda membandingkan diri dengan orang lain, berarti Anda bersalah pada diri sendiri. Anda mungkin akan menjadi takut tak akan pernah berusaha meraih potensial secara penuh. Padahal dengan tingkat/ kadar latihan dan bakat yang sama, Anda juga dapat melakukannya. Bila tidak di suatu bidang tentu di bidang lainnya. Bila Anda menghapuskan rasa takut akan perbandingan, maka akan tercengang pada hasil yang Anda raih.”

Sepenggal tulisan di atas memberi pesan kepada kita bahwa sikap suka membanding-bandingkan adalah suatu sikap yang tidak baik. Hal ini diperkuat oleh ide yang menyatakan bahwa setiap makhluk Tuhan, apalagi manusia, diciptakan dengan unik. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dibandingkan dengan si A, B lebih baik. Tapi B tidak lebih baik dari si A karena ini atau itu. Sifat ini sungguh bertolakbelakang dengan upaya kita untuk mewujudkan budaya kehidupan yang lebih baik. Perang yang ada di dunia bukankah karena upaya membanding-bandingkan? Tulisan di atas juga memperjelas arti bahwa tidak ada manusia yang sukses karena dirinya sendiri. Akan selalu ada andil dan peran orang lain di dalam upaya kita meraih sukses yang kita inginkan. Meskipun bertahap, sebaiknya sikap kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain, baik kelebihan maupun kekurangan, sedapatnya harus bisa dihindari agar tidak ada pihak-pihak yang menjadi korban dari perbandingan yang ada.

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s