Apresiasi terhadap Dunia Buku di Indonesia (Sebuah Artikel)


Apresiasi terhadap Dunia Buku di Indonesia

Oleh: syayid sandi sukandi

Pembukaan

Mencermati perkembangan dunia buku adalah sebuah aktifitas tersendiri yang menarik untuk dilakukan. Tidak saja kta bisa mengetahui perkembngana buku tapi juga mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi sehubungan dengan dunia perbukuan di Indonesia. Namun, tentu saja informasi yang kita peroleh sedikit terbatas bila dibandingkan dengan jumlah informasi yang diperoleh oleh penerbit buku itu sendiri.

Pada kesempatan ini, penulis akan membahas perihal buku, penulis buku, penerbit buku dan kualitas buku berdasarkan kepada pemahaman penulis sebagai salah seorang pembaca buku, dengan tetap merujuk kepda sumber-sumber yang relevan. Adapun tujuan tulisan ini dibuat yaitu untuk menginformasikan kepada pembaca seputar buku, penulis buku, penerbut buku dan bagaimana kualitas buku yang baik.

Sementara itu, referensi yang penulis gunakan divariasikan dengan amksud agar informasi tang disampaikan dalam tulisan ini tidak mengada-ada. Meskipun demikian, sumber utama yang digunakan adalah beberapa buku yang ditulis oleh penulis yang sudah mendapat nama di Indonesia. Sekedar memperkokoh fondasi dasar tulisan ini, penulis juga menggunakan kamus Bahasa Inggris yang telah diakui, dibaca dan digunakan secara internasional yaitu “Oxford Adavanced Learner’s Dictionary of Current English”.

Buku, Penulis Buku, Penerbit Buku dan Kualitas Buku

Buku

Bermula dari sebuah ayat yang ada di dalam Al-Qur’an yaitu Iqra, Bismirabbikal Ladzi Khallaq (Bacalah, atas nama Tuhanmu yang Menciptakan). Maksud ayat ini tentu bagi pembaca sekalian sudah jelas, yakni kita sebagai makhluk Tuhan, yaitu diperintahkan membaca. Dengan arti kata, kita menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Bukankah perbedaan mendasar antara manusia dan binatang adalah pada kegiatan membaca?

Pada tingkat perkembangan teknologi informasi saat ini, kebutuhan membaca sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk menjadikan diri kita masing-masing menjadi manusia yang berperadaban dan berbudaya. Dalam hal ini, membaca yang dimaksud tentu saja membaca teks. Teks yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah berupa buku.

Kata buku, memiliki turunan kata sebanyak dua belas kata, dalam Bahasa Inggris. Sebagai bahasa internasional, Bahasa Inggris menjadikan kata buku cukup bernilai. Di anatara turunan kata “buku” yaitu “bookbinder” (penjilid buku), “bookcase” (tempat menyimpan buku), “bookie” (pembuat buku), “bookish” (seseorang yang memiliki wawasan lebih banyak dari buku ketimbang dari kerja praktek), “bookkeeper” (bagian administrasi keuangan bisnis perbukuan), “booklet” (buku tipis), “bookmaker” (sama dengan “bookie”), “bookstall” (kios penjualan buku), “dan “bookwarm” (kutu buku) – Hornby (124).

Berdasarkan jumlah kata-kata di atas, hal ini menandakan bahwa di mata dunia internasional buku menempati posisi yang cukup signifikan. Tentu saja, bila dilihat dari manfaat yang diberikan oleh buku, banyak sekali. Namun sayangnya, buku akan menjadi persoalan tersendiri bila menyagkut kewajiban dan hak baik antara penerbit dan penulis buku, atau antara buku dan selera pasar.

Untuk jenis-jenis buku, bisa dibedakan kepada beberapa jenis buku. Akan tetapi, secara garis besar dapat dikatakan bahwa buku hanya memiliki dua jenis, yaitu buku fiksi dan non-fiksi. Buku fiksi adalah buku yang ditulis penuh dengan sisi imjainatif dari penulis, sementara buku non-fiksi adalah buku yang ditulis esuia dengan realita yang ada dalam kehidupan dan dituangkan melalui cara-cara konvensional, berupa akademis mupun praktis.

Berkaitan dengan fiksi, penulis sepakat terhadap ide Albert Einstein, yang menyatakan:

“imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan. Karena tak jarang penemu-penemu teknologi (yang sekarang dikembangkan lebih pesat), berawal dari angan-angan, memanfaatkan imajinasi, lalu diwujudkannya” – Roidah (1).

Pernyataan di atas berarti bahwa kekuatan terbesar yang bisa menjadikan semua wujud kreatifitas manusia ini adalah imajinasi. Perlu dicatat, imajinasi berbeda dengan mengkhayal. Ber-imajinasi, memikirkan sesuatu berdasarkan kepada apa yang terjadi di alam, sementara, khayalan lebih tinggi dari imajinasi, yaitu memikirkan sebuah bentuk, pola atau sususan tertentu tapi belum tentu bisa diciptakan oleh manusia sendiri, dan terbatas hanya di alam pikiran saja.

Ini sebabnya dapat dikatakan bahwa seorang penulis sastra, tentunya bukan penulis yang asal menulis saja, adalah seseorang dengan kemampuan daya khayal yang tinggi dan bisa dikatakan jenius karena penggabungan antara daya verbal yang indah dengan alunan imajinasi tidak semudah membalikan tangan untuk orang-orang biasa. Untuk mendapatkan kemampuan seperti ini, diperlukan yang serius dan berkelanjutan.

Penulis Buku

Bila ada ciptaan, tentu ada penciptanya. Sama halnya dengan buku. Bila ada buku, tentu ada penulisnya. Pada bagian ini, penulis akan membahas beberapa penulis yang menulis buku non-fiksi dan buku fiksi. Sementara, nama-nama penulis diambil dari beberapa nama yang sangat mendunia dan sangat terkenal di Indonesia untuk kategori fiksi dan non-fiksi.

Senada dengan persoalan profesi, manulis fiksi juga merupakan, belakangan ini, menajdi kategori dunia kerja (pilihan profesi) tetap (Roidah 6). Pernyataan ini membuktikan bahwa menjadi seorang penulis bukan lagi sesuatu yang aneh, melainkan profesi yang terpandang. Namun sayangnya, nasib penulis cukup dilematis karena sifatnya untung-untungan. Untung banyak kalau banyak orang yang membeli bukunya. Untung sedikit bila sedikit orang yang membeli bukunya. Meskipun begitu, yang tidak kalah penting dari profesi menulis adalah penulis banyak memberikan kontribusi dan sumbangsih ide dan pemikiranya kepada bangsa dan Negara ini ketimbang profesi lainnya.

Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Penulis Buku Fiksi

Fiksi erat kaitannya dengan sastra. Pembaca bisa mengetahui contoh-contoh penulis fiksi yang ada, baik yang menggunakan bahasa Indonesia mauun yang memakai bahasa Inggris sebagai medianya.

Beberapa penulis yang menggunakan bahasa Inggris sebagai medianya antara lain: Nadine Gordimer (1923), Toni Morrison (1931), Simoe de Beauvoir (1908 – 1986), Virginia Woolf (1882 – 1941), Maya Angelou (1928), Susan Sontag (1933-2004), dan Pearl S Buck (1892-1973) – Pranoto (139 – 61) dan Chalton (678 – 81).

Masih banyak lagi nama-nama penulis terkenal lainnya di dunia fiks, mulai dari masa Yunani kuno, seperti Aesop, Hesiab, Pindar, dan Sappho sampai modern saat ini seperti Patricia Cornwell, John Grisgham, Ishiguro, Okri, dan McMillan – Chalton (676 – 81).

Untuk penulis fiksi di Indonesia, beberapa contohnya adalah Eddy D Iskandar, Remy Silado, Ashadi Siregar, Abdullah Harahap, Seno Gumira Adjidarma, MArga T, Mira W, V Lestari, Djaenar Maesa Ayu, Fira Basuki dan Ayu Utami.

Masing-masing penulis fiksi di atas memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. Itulah yang membuat karya-karya mereka tetap dibaca oleh orang lain. Bahkan, proses kreatif mereka pun berbeda-beda. Proses kreatif antara satu penulis dengan penulis lainnya juga berbeda.

Lebih lanjut, seorang penulis fiksi juga dianggap hebat karena disebabkan oleh fiksi itu sendiri juga menuntut penulisnya untuk berpikir hebat pula. Hal ini didukung oleh pernyataan Silvester (9):

“…menulis fiksi tidak sesederhana membuat sesuatu atau membayangkan sesuatu dan menuliskannya. Seperti semua kenis tulisan, fiksi mempunyai aturan-aturan, atau setidaknya panduan atau konvensi”

Ini berarti bahwa kejeniusan seorang penulis fiksi di dalam menciptakan dunia imajiner tidak terbantahkan lagi. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan seperti ini. Apalagi bila kemampuan ini ditambah dengan kemampuan menggunakan bahasa yang indah, yang bisa memberikan ketenangan dan bisa membawa pembaca untuk terus membaca karya tanpa henti. Tentu akan menjadikan penulis tersebut sebagai bagian dari kumpulan orang-orang legendaris.

Penulis Buku Non-Fiksi

Dimensi lain yang berbeda dengan fiksi, tapi tentunya juga termasuk jenis tulisan yang ada di buku, yaitu non-fiksi. Ciri mendasar yang mencolok dari buku non-fiksi adalah buan rekaan, nyata, memiliki data-data dan fakta, menggunakan bahasa yang tidak berbunga-bunga dan tidak ambigu, serta bisa dibuktikan kebenarannya. Dengan arti kata, non-fiksi berarti ilmiah,. Keilmiahan buku ini didukung oleh tingkat keolmuan penulis, referensi yang digunakan dan kebermanfaatan buku di khalayak atau pembaca.

Penulis buku non-fiksi biasanya adalah orang-orang yang pakar di bidangnya. Ia menuliskan ilmunya ke dalam buku dengan tujuan tidak hanya mentransferkan ilmu kepada pembaca, tapi juga untuk memperoleh royalty atau profit secara finansial. Hal ini tentu saja semakin membuat profesi menulis menjadi profesi yang multi-profit. Seperti yang ditulis oleh Putra (78), bahwa “…banyak manfaat yang diperoleh dari menulis selain manfaat social, juga diperoleh manfaat spiritual, emosional, dan finansial”.

Beberapa contoh penulis yang menulsi buku non-fiksi di luar Indonesia antara lain: Gerald Levin dengan bukunya “A Brief Handbook of Rhetoric”, Mary Lynch Kennedy dan Hadley M Smith “Academic Writing: Working with Sources across the Curriculum”, Herber J Muller “Science and Criticism: The Humanistic Tradition of Contemporary Thought”,dan William James Earle di bukunya “Introduction to Philosophy”.

Banyak dari penulis yang ada di Barat sana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Contohnya, John Creswell “Research Design: The Qualitative and Quantitative Approaches” menjadi “Desain Penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif”, yang diterjemahkan oleh Angkatan III & IV KIK-UI, bekerja sama dengan Nur Khabibah. Contoh ini hanyalah satu contoh dri ratusan buku yang ada.

Penulis buku non-fiksi yang ada di Indonesia tentu umlahnya juga banyak. Namun, tentu saja jumlah pembaca untuk non-fiksi untuk buku yang tebal dan harganya ratusan ribu ke atas masih tergolong sedikit di Indonesia. Ini dikarenajakn oleh tingkat daya beli konsumen yang rendah di Indonesia.

Beberapa contoh penulis non-fiksi di Indonesia antara lain Nyoman Kutha Ratna dengan bukunya “Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra”, Endraswara Suwardi “Metodologi Penelitian Sastra”, Lexy J Moleong “Metodologi Penelitian Kualitatif” dan Siswantoro “Metodologi Penelitian Sastra: Analisis Psikologis”.

Sama halnya dengan penulis fiksi, penulis non-fiksi juga memiliki kelebihan dan keunggulan masing-masing. Perbedaan yang mencolok adalah bidang yang ditulis, materi yang disampaikan dan bahasa yang digunakan. Meskipun ilmiah, buku non-fiksi seharusnya dibuat dengan bahasa yang komunikatif, mengingat bahwa para pembaca berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dari tingkat umur, intelektualiats dan daya serap informasi yang berbeda pula.

Penerbit Buku

Tanpa penerbit buku, penulis buku tidak ada artinya. Benarkah demikian? Untuk konteks zaman sekarang, rasanya memang benar tapi tidak mutlak kebenarannya. Sesuai dengan namanya, penerbit buku, badan ini bertugas untuk menerbitkan naskah dari penulis-penulis ke media massa, setelah melewati proses yang panjang dan berliku-liku. Ditambah lagi kondisi dunia buku di Indonesia yang masih jauh dari kondisi “standar internasional”.

Data mengenai kebutuhan kertas untuk baca / tulis per kapita setahun di beberapa Negara:

oAmerika Serikat: 795 eksemplar / per kapita

oMalaysia: 62,5 eksemplar / per kapita

oFilipina: 27, 5 eksemplar / per kapita

oIndonesia: 14, 25 eksemplar / per kapita

(Sumber: Putra, 6)

Data di atas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kebutuhan kertas untuk buku paling sedikit disbanding negara-negara seperti Amerika Serikat, Filiphina dan Malaysia. Jumlah ini memang masih sedikit, tapi, mudah-mudahan tahun-tahun yang akan datang, Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.

Untuk membahas persoalan, tentang penerbit buku, tentu saja kita harus melihat terlebih dahulu apa sbernarnya penerbit buku, apa maunya dari penerbit buku, dan apa sasarannya serta apa yang akan kita peroleh dari penerbit buku kalau kita ingin menerbitkan buku kita.

Di Indonesia, jumlah penerit buku bisa dikatakan banyak. Dari banyaknya penerbit itu, banyak pula penerbit-penerbit yang menerbitkan buku beragam tapi punya kecenderungan materi yang sama. Syukurlah, penerbit Indonesia bisa berkompetisi dengan sehat sehingga tidak terlalu banyak mempengaruhi materi yang diterbitkan ke tengah-tengah masyrakat. Jika satu penerbit asal-asalan saja dalam meerbitkan, harga yang harus dibayar mahal adalah paradigma yang terbentuk dan terjadi di dan oleh masyarakat, yaitu masyrakat Indonesia itu sendiri.

Untuk informasi penerbitan buku, Putra (7) menyebutkan: “Di Indonesia, cetakan pertama rata-rata 3.000 eksemplar, selebihnya merupakan pengecualian. Barangkali satu judul dari sepuluh judul yang dicetak”. Ini mengindikasikan bahwa setiap buku yang dicetak, hanya terbatas sampai 3.000 eksemplar saja. Bila ada yang lebih dari itu, tentu saja tidak banyak. Fenomena ini terkait dengan tipe pembaca Indonesia.

Masih dari Pitra (8), ia menjelaskan bahwa ada empat tipe pembaca di Indonesia, yaitu: pembaca musiman, pembaca surat kabar dan majalah, pembaca novel popular, komik strip dan cergam, terakhir yaitu pembaca akademisi. Jenis-jenis pembaca ini merupakan pasar target bagi sebuah penerbit sebelum meluncurkan bukunya ke tengah-tengah masyarakat.

Seterusnya, satu faktor yang sangat mempengaruhi penerbit dalam menerbitkan buku ialah factor penulis, antara lain: siapa anda?, bagaimana isinya?, adakah pasarnya?, dan berapa harganya atau tebalnya? (Putra 126-7). Tentu saja faktor ini harus dipertimbangkan oleh seoang penulis. Namun, di atas semua itu, faktor yang paling penting adaah semangat dan kreatifitas tiada henti untuk selalu meniatkan kalau kita menulis untuk kepentingan orang lain dan terutama masyarakat Indonesia.

Untuk dapat mengetahui daftar nama-nama penerbit yang ada di Indonesia, Anda bisa browsing melalui situs IKAPI.

Kualitas Buku

Ada dua sudut padang yang membuat sebiah buku, baik fiksi maupun non-fiksi, berkualitas. Mereka adalah dari segi lay out (tampilan) dan dari segi isi. Lay out (tampilan) sifatnya subjektif. Ada kalanya sebuah penerbit merasa bahwa cover atau lay out buku yang diterbitkannya sudah menarik, tapi ternyata di mata pembaca, lay out buku tersebut masih kurang menarik. Perlu diperbaiki di sana sini. Sementara, isi buku adalah perangkat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Bagi Anda seorang pnulis, sebaiknya Anda membca buku Zaqeus (lihat di sumber rujukan). Buku ini sangat cocok bagi Anda yang yang merasa dirinya sibuk dan tidak punya waktu luang untuk menulis buku. Maka, buku yang berkualitas adalah buku yang bestseller, tapi buku yang bestseller, belum tentu buku yang berkualitas. Intinya, berkualitas atau tidaknya sebuah buku, tergantung kepada pembaca. Pembaca buku sifatnya relatif, subjektif, dan objektif. Mereka tahu buku apa yang terbaik untuk mereka dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan membeli saja. Orang ramai membeli buku yang satu, ia pun ingin membelinya, walau pada dasarnya buku yang dibelinya itu belum ia butuhkan waktu itu. Untuk pembaca yang kaya, sah-sah saja.

Sebuah contoh, hasil reportase dari Setyawati:

“Serial Teenlit yang dikeluarkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) bisa menjadi contoh. Setiap judulnya diproduksi awal 10.000 eksemplar. Hebatnya dari jumlah sebanyak ini, ada novel yang baru dua mingu sudah habis dan harus cetak ulang sebanyak 15.000 kopi lagi. Sungguh fenokena besar bagi dunia baca di Indonesia”.

Dari reportase di atas, jelas bahwa buku yang berkualitas dari sudut pandang pembaca adalah buku yang bisa memenuhi keinginan pembaca, sementara, buku yang berkualitas dari sudut pandang peerbit adalah buku yang “laris manis” di pasaran dan yang bisa menaikkan “pamor” penerbit.

Seperti yang dikatakan oleh Roidah (5):

“Perlu diketahui, penerbit selain mematok idealisme dalam menyetujui mencetak sebuah karya (seperti apakah karya punya bobot moral, ilmu pengetahuan, dan lainnya), penerbit juga memikirkan unsur bisnis, alias apakah perekonomian mereka bisa tetap ‘hidup’ bahkan ‘terangkat’ dengan karya tersebut”.

Namun, berbeda dengan ide Hs (19), yaitu:

“….buku yang baik bukanlah buku yang laris. Buku yang baik adlah buku yang membawa pencerahan pada masyarakat, abadi, dan tidak mudah dilupakan orang. Bahkan ketika kita membaca buku itu berulang kali, ada saja hal-hal baru yang kita temukan di sana.”

Sudah jelas perbedaannya bukan? Meskipun penerbit tetap mempertimbangkan “pasar”, sebagai penulis artikel ini, penulis yakin bahwa penerbit buku di Indonesia tidak akan menerbitka buku secara serampangan dan memilih isi buku yang asal-asalan. Lebih baik ringan, tapi mencerahkan, ketimbang berat, tapi membawa masyarakat ke dalam gelap, di mana hidup ini sendiri sudah gelap. Maka, masyarakat butuh pencerahan. Salah satunya dari buku.


Dunia Buku di Indonesia

Berdasarkan apa yang telah disampaikan di atas, jelas bahwa dapat dikatakan dunia buku ada karena adanya sinergi dari tiga unsur, yaitu penulis (author/pencipta), penerbit (publisher/medium), dan pembaca (readers/destination). Saling bersinerginya ke tiga unsur di atas, dalam keadaan seimbang, maka, semakin baik pula kondisi dunia buku di Indonesia. Namun, bukan berarti pula tidak ada satu pun kekurangan yang terjadi. Berdasarkan beberapa sumber, kecurangan atau ketidakseimbangan seringkali terjadi di bagian penerbit.

Ada sepuluh rahasia penerbit yang harus diperhatikan oleh seorang penulis. Ini telah disampaikan oleh Putra (138). Sepuluh rahasia itu adalah:

*Mengadaptasi atau “mencuri” ide pengarang untuk melakukan benchmark, meski naskah dikembalikan.

*Tidak memberi tahu uang muka 10 % atas total royalti yang akan diterima penulis.

*Tidak berterus terang kepada pengarang bahwa kalau pengarang membeli bukunya sendiri – untuk dijual sendiri – ia mendapat rabat (potongan khusus) antara 30 – 35 % (sama dengan penyalur).

*Tidak memberi tahu cetak ulang

*Tidak memberikan laporan perjalanan

*Kalau pengarang mengecek ke toko mengapa stok penjualan sudah tidak ada, sementara royalti tidak kujung datang, dikatakan masih dalam proses retour, dan belum menjadi penjualan (uang)

*Tidak mengirimkan royalti, kalau tidak ditanya

*Cenderung menunda pembayaran royalti

*Membuat laporan keuangan ganda yang merugikan pengarang

Bila kesembilan hal di atas terjadi, buka penulis saja yang akan mengalami kerugian tapi juga penerbit itu sendiri akan mengalami masalah besar yaitu nama yang buruk di mata pengarang. Seyogyanya setipa penerbit melihat penulis dan pengarang buku yang berkualitas sebagai aset yang paling berharga. Sebab, terkadang penerbit salah. Menilai kualitas sebuah tulisan yang diberikan oleh seorang penulis. Biasanya, buku yang diterbitan selalu “crispy” dan “gampang dibaca” ketimbang “meningkatkan daya pikir dan daya nalar masyarakat”.

Sistem yang diberlakukan oleh penerbit juga bervariasi. Mereka punya sistem tersendiri. Seperti yang ditulis oleh Putra (135 dan 137). Ada sistem beli putus dan royalti.

1.sistem beli putus

ketebalan 60 halaman: Rp. 1.500.000,00

ketebalan 60 – 94 halaman: Rp. 4.500.000,00

ketebalan 96 – 164 halaman: Rp. 5.000.000,00

ketebalan 165 – 221 halaman: Rp. 6.000.000,00

ketebalan 225 – 300 halaman: Rp. 7.000.000,00

2.sistem royalti

range 5 – 7 % untuk penulis pemula

range 8 – 10 % untuk penulis madya (menengah)

range 10 – 12,5 % untuk penulis pakar atau ahli

Contoh:

Novel karangan Jenar Hakin Garis berjudul “Kugampar Mukamu”

Bayaran 10 %, dicetak 2.000 eksemplar, harga Rp. 25.500,00

Royalti: 10 % x 2.000 x Rp. 25.500,00 = Rp. 5.000.000,00

Sebuah label buku yang sangat ampuh untuk menarik pembaca lainnya untuk membeli sebuah buku adalah label BestSeller. Siapa pun penulisnya, pasti senang bila buku yang ia tulis menajdi best-seller book. Tapi, tentu saja bukan karena “mengharapkan uang masuk”, melainkan “perasaan bangga dan bahagia bahwa bukunya dibeli, dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.”

Kesimpulan


Secara garis besar, perbukuan di Indonesia cukup baik meskipun tingkat intensitas daya beli masyarakat masih rendah, dan masih sedikitnya jumlah penulis asli Indonesia. Banyaknya buku terjemahan di toko-toko buku Indonesia, membuat wajah dunia buku kita awut-awutan. Namun, kita masih harus bangga, masih ada beberpa penerbit di Indonesia yang selalu “membuka tang lebar-lebar” menerima tulisan-tulisan dari warga negara Republik Indonesia yang tercinta ini. Hiduplah bahasa dan sastra, hiduplah Indonesia Raya….!!


Sumber Rujukan

  • Chalton, Nicola (ed). The Literature’s Lover’s Companion: Who Wrote What When. Scotland; Diagram Visual Information Limited, 2004.
  • Hornby, A.S. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford; Oxford University Press, 1995.
  • Hs, Lasa. Gairah Menulis: Panduan Menerbitkan Buku bagi Penulis Pemula. Jogjakarta; Alinea, 2005.
  • Pranoto, Naning. Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang. Jakarta; PT. Primamedia Pustaka, 2004.
  • Putra, R Masri Sareb dan Yennie Hardiwidjaja. How to Write and Market A Novel (Panduan Bagi Novelis, Pendidik, dan Industri Penerbitan). Bandung; Kolbu, 2007
  • Roidah. Menghadirkan ‘Nafas’ untuk Menulis Fiksi. Makalah pada Diklat Jurnalistik Forum Lingkar Pena Sumbar di Ruang Seminar Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, 24 Desember 2005.
  • Setyawati, Nina dan Eka Alam Sari. Bikin Novel: Hobi yang Pantas Dilirik. Online. . Diakses Maret 2008.
  • Silvester, Niko dan Rafa Alexander. Panduan Menulis Fiksi untuk Pemula. Jogjakarta; Platinum, 2004.
  • Zaqeus, Edy. Resep Cespleng Menulis Buku BestSeller: Jurus Jitu Menulis Buku Laris untuk Orang Sibuk seperti Anda. Tangerang; Fivestar Publishing, 2008.

2 thoughts on “Apresiasi terhadap Dunia Buku di Indonesia (Sebuah Artikel)

  1. >artikel yang menarik, syayid. khususnya tentang buku yang berkualitas belum tentu sesuai dengan selera pasar dan agenda penerbit (dengan pertimbangan bisnis). Ibarat dua sisi mata uang, penerbit harus hidup dari penjualan yang diatur oleh selera pasar, akhirnya cenderung menyeleksi naskah-naskah yang berkualitas dan mengutamakan naskah-naskah yang diinginkan pasar, meskipun pesan moralnya dangkal.thanks,B.

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s