Puisi: Desember Berkabut

>Desember Berkabut

Malam begitu dingin dan membeku
Lampu-lampu jalan masih terang benderang
Menyala…
Geliat kota tidak pernah henti
Malam bagai siang
Sama saja…

Di sudut ini aku terpaku
Tersendu dan mengiba diri
Merenung dalam bicara batin
Menatap langit yang seakan tak perduli
manusia sibuk dengan diri sendiri
terlena dengan dunia ini

Desember berkabut
aku menatap hangatnya sentuh-Mu
kebenaran itu memang berat, ya Allah
bahkan benci pun kurasakan
dari orang yang ingin kupeluk

Aku tidak ingin sendiri, ya Allah
sementara yang lain bergelimang dosa
hidup bagai kupu-kupu memakan madu
terbang ke mana suka
mati tiada sisa

Berat
sungguh berat
Banyak duri di jalan yang berliku, tajam dan terjal
Sekuat inikah aku harus berjuang?
Limpahkan hidayah-Mu, ya Allah

Mataku terasa berat
huruf ini pun serasa tidak jelas lagi
Aku menangis
Aku tidak kuat
Mengapa harus ada dunia, ya Allah

Aku hidup seperti terasing
Menyendiri
Selalu sendiri
Walau berjuta keramaian di sisi ini

Kumenangis di sujudku pada-Mu
akan kah aku sanggup bertahan dengan iman ini?
Iblis senantiasa membujukku mesra, dengan gelora
Ya Allah…antarkanlah aku
ke husnul khatimah…

Aku ingin tersenyum bahagia bila jauh dari dunia ini
Akankah aku pantas menyebut-Mu ‘sahabatku?’
Engkau selalu ada ketika aku sedih
Memapahku menuju hangatnya hidayah-Mu
Aku merasakan Kau ada, di jiwa ini…
Engkau Maha Agung, Maha Suci…

Ya Allah…
Engkau adalah sebaik-baik tempat
untuk berlindung
untuk membagi rasa suka dan duka
untuk mencurahkan isi hati
Tiada kekuatan melainkan Engkau, ya Allah
Aku akan berusaha selalu…
untuk tidak mengingkari nikmat-Mu semua ini…

Dan kini
aku di dunia ini
Sampai kapankah ajal akan menjelang?
Aku rindu pada Izrail
Akankah aku bisa membahagiakan orang tuaku
sebelum ajalku?

Rengkuhlah aku dengan sayang-Mu
Jadikanlah dunia di tanganku, bukan di hati ini
Sungguh, aku takut menjadi Qarun
aku takut menjadi Fir’aun
Aku hanya manusia yang hina dan dina
Pantaskah aku dengan surga-Mu?

Ah…
Desember kelabu
Berkabut dingin dan beku,
menusuk tulang terdalamku
Hangat kurasakan dari hidayah-Mu
hingga kabut itu pun, tiada arti
karena cinta, kasih dan sayang-Mu…

La ilaha ila llahu, muhammadarrasulullahu..,
Shadaqallahul’adzim..
Maha Benar Allah, dengan segala Firman-Nya…

(Padang, 7 Desember 2007, lantai 6 Hotel Pangeran Beach, menatap ke laut)

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s