A poem

>Larut dalam kesunyian
Hampa dalam kedukaan
Berdiri di atas menara ini
melihat kehidupan manusia
beraneka ragam dan berwarna
sendiri, sendiri dan sendiri

Hidup sendiri di atas dunia ini
Ingin terbang di antara bayang-bayang senja
ditatap indahnya senyum sang mentari
kuning, gemerlap, emas

Langit pun seperti kapas
dingin, putih dan beku
Lihat masjid di sana
akankah ia menjadi hotel?

Melihat gunung, ia acuh dan sombong
misteri dan beku
namun, indahnya alam dapat dilihat
dari gunung saja

Kumenyelam di teduhnya samudera
tenang, dalam dunia beriak lain
namun, membunuhku, manusia

Berlari mengejar bintang
ingin kupeluk
kini, hanya sepi, sendiri
dan sendiri

Dalam temeramnya hati
Berjuta rasa bernaung di dada
Alam ini indah
Bumi ini megah

Penciptanya pasti lebih dari ini semua

Tapi, mengapa manusia merusaknya?
Salah siapa?
Salah siapa?

Sapaan gelombang bergemuruh
bagai berkata
Ia menyampaikan sesuatu
Tapi apa?

Kenapa mesti pohon kelapa
tumbuh di pantai saja?
Dunia manusia
hanya materi semata
Dan, dunia ini fana
termasuk cinta dan persahabatan

Hanya Allah SWT.
yang akan selalu menemani hati ini
Ia Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang

Ambillah dan perihalah cintaku untuk-Mu,
ya Allah SWT…

(Syayid, November 21st, 2007, Puncak Lawang – Sawahlunto dan Ngalau Indah – Payakumbuh, Sumatera Barat)

Comments or Feedback? Tanggapan Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s